Siang itu Tarjono (37 tahun), seorang petani dari Desa Jetak Kec Sidoharjo Kab Sragen Jawa Tengah nampak tengah menjemur beberapa ikat bawang merah hasil panennya. Bawang merah tersebut ia tanam dengan cara organik, yaitu dengan menggunakan pupuk kandang, pembasmi hama alami dan air yang berasal dari sumurnya sendiri. Sebenarnya menanam bawang merah dengan cara organik ini merupakan coba-coba, namun hasilnya cukup memuaskan.

Awalnya, ide ini muncul ketika Tarjono melihat sebidang tanah bekas lapangan bola voli di samping rumahnya yang sudah tidak digunakan lagi. Sebagai petani yang telah lama berkecimpung dalam sistem pertanian organik, ia ingin memanfaatkan lahan kososng tersebut untuk bercocok tanam organik. Maka muncullah ide menanam bawang merah dengan cara organik. Ia menyadari bahwasannya menanam tanaman sayur, apalagi bawang merah sangat beresiko terserang hama dan penyakit. Namun dengan pengalamannya selama ini, ia tetap nekat menanam bawang merah dengan cara organik.

Sebenarnya Tarjono tidak memiliki pengalaman cara menanam bawang merah. Namun karena tekadnya menanam bawang merah sudah bulat, ia berguru kepada beberapa petani di sekitarnya yang punya pengalaman menanam bawang merah. Yang ia ketahui hanyalah harus rajin menyirami setiap pagi sebelum matahari terbit dan sore sebelum matahari tenggelam, serta memberi pupuk pada hari ke 12, 22 dan 35.

Diserang Ulat

Perjalanan Tarjono menanam bawang merah tidaklah mulus. Saat terjadi perubahan cuaca, bawang merah terserang hama berupa telor-telor ulat, yang kemudian menetas menjadi ulat. Dengan pengetahuan organiknya, Tarjono lalu menyemprot bawang merahnya itu dengan rebusan daun mimba, tembakau dan bahan lain secara rutin setiap hari pagi dan sore. Ini dilakukannya selama hama terlihat masih hidup sampai tanaman dapat pulih kembali. Setelah tanaman pulih, perawatan dilakukan biasa-biasa saja, yaitu tetap rajin menyiram.

Bibit bawang merah yang ia tanam di lahan seluas 100 meter persegi tersebut, diperoleh dari bibit yang sebenarnya dalam kategori bibit tidak bagus. Bibit ini berasal dari daerah Brebes Jawa Tengah. Bawang merah ini dipanen pada usia 50 hari. Satu bibit yang ditanam bisa menghasilkan hingga 17 siung. Jika dirata-rata, setiap gerombol terdapat 10 siung. Dari 20 kg bibit yang di tanam mampu menghasilkan kurang lebih satu kuintal per 100 meter persegi.

Berbekal pengalaman baru ini, Tarjono menyatakan akan tetap belajar menanam bawang merah secara organik. Selain itu ia juga ingin mengajak petani penanam sayur, khususnya bawang merah, untuk kembali mengolah lahannya dengan cara organik. Komoditas organik baik untuk kesehatan manusia, dan bertanam secara organik dapat mencegah kerusakan lingkungan. Jika lingkungan tetap lestari, petani tetap dapat melangsungkan kehidupan taninya sampai akhir jaman.

Sangat disadari bahwa menanam bawang merah membutuhkan banyak biaya, dan bahkan biaya menanam bawang merah bisa lebih besar dari biaya menyekolahkan anak. Hal ini disebabkan karena biaya untuk membeli obat-obatan (racun/pestisida) dan pupuk cukup tinggi.

Apa perbedaan antara menanam cara organik dan non organik? Menanam dengan cara organik akan lebih banyak menyita tenaga namun biaya pupuk dan obat-obatan (racun/pestisida) dapat ditekan. Kuntungan lain yaitu tanah akan tetap subur dan tidak cepat rusak.

Menentukan Harga Sendiri

Keuntungan lain yang bisa diperoleh oleh petani ketka menanam secara organik yaitu, petani bisa menentukan harga sendiri dan tidak lagi tergantung harga di pasar. Dari perhitungan yang dilakukan Tarjono, harga per kilogram bawang merahnya minimal Rp.10.000. Para pembeli pangan organik ini biasanya berasal dari golongan tertentu yang benar-benar memahami arti kesehatan dan pangan sehat.

Satu hal yang saat ini masih membuat Tarjono agak bingung, yaitu ia tidak tahu lembaga atau pihak mana yang bersedia dan mau menampung bawang merah organik. Apabila dikemudian hari ada pihak yang bisa membeli bawang merah organik, ia akan lebih bersemangat lagi mengajak petani lain untuk menanam bawang merah dengan cara organik. Namun hal inipun tetap bersyarat, yaitu harga ditentukan oleh petani, bukan oleh pembeli.

Membingungkan

Kehadiran sales-sales obat-obat (racun/pestisida) kimia untuk tanaman pertanian selama ini membuat para petani jadi bingung. Bagaimana tidak, setiap sales selalu mengunggulkan barang dagangannya. Padahal para petani tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan jika menggunakan obat-obatan (racun/pestisida) tanaman buatan pabrik. Lebih-lebih jika digunakan secara berlebihan.

Jika petani sudah ketagihan dengan obat-obatan (racun/pestisida) buatan pabrik, maka lama kelamaan petani akan selalu tergantung. Jika petani sudah tergantung dan pengetahuan membuat pengendali hama tanaman sendiri tidak miliki, maka petani akan dipermainkan oleh harga obatan-obatan (racun/pestisida) yang sangat dimungkinkan naik terus. Inilah yang harus dihindari. Petani harus lepas dari permainan industri obat-obatan yang jelas-jelas merugikan petani.

Untuk lebih meyakinkan petani lain dan juga pembeli bahwa bawang merah juga dapat dibudidayakan secara organik, Tarjono berusaha menyebarluaskan informasi pengalamannya kepada para petani lain. Cara yang dilakukan diantaranya ialah bercerita langsung kepada petani lain maupun melalui pihak lain, atau melalui media promosi, misalnya memamerkan bawang organik di pameran-pameran produk pertanian.

Kurniawan Eko Yulianto

Blogged with Flock