March 2007
Monthly Archive
Monthly Archive
Posted on Mar 23 2007 | Tagged as: Download
Posted on Mar 17 2007 | Tagged as: Farmers' Initiatives
Siang itu Tarjono (37 tahun), seorang petani dari Desa Jetak Kec Sidoharjo Kab Sragen Jawa Tengah nampak tengah menjemur beberapa ikat bawang merah hasil panennya. Bawang merah tersebut ia tanam dengan cara organik, yaitu dengan menggunakan pupuk kandang, pembasmi hama alami dan air yang berasal dari sumurnya sendiri. Sebenarnya menanam bawang merah dengan cara organik ini merupakan coba-coba, namun hasilnya cukup memuaskan.
Awalnya, ide ini muncul ketika Tarjono melihat sebidang tanah bekas lapangan bola voli di samping rumahnya yang sudah tidak digunakan lagi. Sebagai petani yang telah lama berkecimpung dalam sistem pertanian organik, ia ingin memanfaatkan lahan kososng tersebut untuk bercocok tanam organik. Maka muncullah ide menanam bawang merah dengan cara organik. Ia menyadari bahwasannya menanam tanaman sayur, apalagi bawang merah sangat beresiko terserang hama dan penyakit. Namun dengan pengalamannya selama ini, ia tetap nekat menanam bawang merah dengan cara organik.
Sebenarnya Tarjono tidak memiliki pengalaman cara menanam bawang merah. Namun karena tekadnya menanam bawang merah sudah bulat, ia berguru kepada beberapa petani di sekitarnya yang punya pengalaman menanam bawang merah. Yang ia ketahui hanyalah harus rajin menyirami setiap pagi sebelum matahari terbit dan sore sebelum matahari tenggelam, serta memberi pupuk pada hari ke 12, 22 dan 35.
Diserang Ulat
Perjalanan Tarjono menanam bawang merah tidaklah mulus. Saat terjadi perubahan cuaca, bawang merah terserang hama berupa telor-telor ulat, yang kemudian menetas menjadi ulat. Dengan pengetahuan organiknya, Tarjono lalu menyemprot bawang merahnya itu dengan rebusan daun mimba, tembakau dan bahan lain secara rutin setiap hari pagi dan sore. Ini dilakukannya selama hama terlihat masih hidup sampai tanaman dapat pulih kembali. Setelah tanaman pulih, perawatan dilakukan biasa-biasa saja, yaitu tetap rajin menyiram.
Bibit bawang merah yang ia tanam di lahan seluas 100 meter persegi tersebut, diperoleh dari bibit yang sebenarnya dalam kategori bibit tidak bagus. Bibit ini berasal dari daerah Brebes Jawa Tengah. Bawang merah ini dipanen pada usia 50 hari. Satu bibit yang ditanam bisa menghasilkan hingga 17 siung. Jika dirata-rata, setiap gerombol terdapat 10 siung. Dari 20 kg bibit yang di tanam mampu menghasilkan kurang lebih satu kuintal per 100 meter persegi.
Berbekal pengalaman baru ini, Tarjono menyatakan akan tetap belajar menanam bawang merah secara organik. Selain itu ia juga ingin mengajak petani penanam sayur, khususnya bawang merah, untuk kembali mengolah lahannya dengan cara organik. Komoditas organik baik untuk kesehatan manusia, dan bertanam secara organik dapat mencegah kerusakan lingkungan. Jika lingkungan tetap lestari, petani tetap dapat melangsungkan kehidupan taninya sampai akhir jaman.
Sangat disadari bahwa menanam bawang merah membutuhkan banyak biaya, dan bahkan biaya menanam bawang merah bisa lebih besar dari biaya menyekolahkan anak. Hal ini disebabkan karena biaya untuk membeli obat-obatan (racun/pestisida) dan pupuk cukup tinggi.
Apa perbedaan antara menanam cara organik dan non organik? Menanam dengan cara organik akan lebih banyak menyita tenaga namun biaya pupuk dan obat-obatan (racun/pestisida) dapat ditekan. Kuntungan lain yaitu tanah akan tetap subur dan tidak cepat rusak.
Menentukan Harga Sendiri
Keuntungan lain yang bisa diperoleh oleh petani ketka menanam secara organik yaitu, petani bisa menentukan harga sendiri dan tidak lagi tergantung harga di pasar. Dari perhitungan yang dilakukan Tarjono, harga per kilogram bawang merahnya minimal Rp.10.000. Para pembeli pangan organik ini biasanya berasal dari golongan tertentu yang benar-benar memahami arti kesehatan dan pangan sehat.
Satu hal yang saat ini masih membuat Tarjono agak bingung, yaitu ia tidak tahu lembaga atau pihak mana yang bersedia dan mau menampung bawang merah organik. Apabila dikemudian hari ada pihak yang bisa membeli bawang merah organik, ia akan lebih bersemangat lagi mengajak petani lain untuk menanam bawang merah dengan cara organik. Namun hal inipun tetap bersyarat, yaitu harga ditentukan oleh petani, bukan oleh pembeli.
Membingungkan
Kehadiran sales-sales obat-obat (racun/pestisida) kimia untuk tanaman pertanian selama ini membuat para petani jadi bingung. Bagaimana tidak, setiap sales selalu mengunggulkan barang dagangannya. Padahal para petani tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan jika menggunakan obat-obatan (racun/pestisida) tanaman buatan pabrik. Lebih-lebih jika digunakan secara berlebihan.
Jika petani sudah ketagihan dengan obat-obatan (racun/pestisida) buatan pabrik, maka lama kelamaan petani akan selalu tergantung. Jika petani sudah tergantung dan pengetahuan membuat pengendali hama tanaman sendiri tidak miliki, maka petani akan dipermainkan oleh harga obatan-obatan (racun/pestisida) yang sangat dimungkinkan naik terus. Inilah yang harus dihindari. Petani harus lepas dari permainan industri obat-obatan yang jelas-jelas merugikan petani.
Untuk lebih meyakinkan petani lain dan juga pembeli bahwa bawang merah juga dapat dibudidayakan secara organik, Tarjono berusaha menyebarluaskan informasi pengalamannya kepada para petani lain. Cara yang dilakukan diantaranya ialah bercerita langsung kepada petani lain maupun melalui pihak lain, atau melalui media promosi, misalnya memamerkan bawang organik di pameran-pameran produk pertanian.
Kurniawan Eko Yulianto
Blogged with Flock
Posted on Mar 17 2007 | Tagged as: Farmers' Initiatives
Dari sebuah ide 58, yaitu komposisi rumus menanam jagung seluas 5 hektar dan memelihara 8 sapi, kini saya bisa mengakses kerjasama dengan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang peternakan. Awalnya hanya melontarkan ide, namun ide tersebut kemudian berbuntut pada dipercayanya kami dalam kerjasama dengan perusahaan. Dana yang terlah terinvestasikan berjumlah 5 Miliar untuk kerjasama penanaman jagung.
Pertama kali kerjasama investasi ini bermula pada saat saya diundang oleh Pemerintah Kab Tanah Laut Kalimantan Selatan dalam acara gerakan 100 ribu ton jagung. Pertemuan ini diadakan di Balairung (Aula) Kab Tanah Laut pada tanggal 5-6 Mei 2006. Acara ini dihadiri oleh BPTP Kalsel, BPTP Kalteng, Balitnak Bogor, Balitsereal Maros (Sulawesi Selatan), Balitra, DPRD Tanah Laut, Balitjas (Serpong), Pemkab Tanah Laut, Dinas Pertanian Kab Tanah Laut, Dinas Peternakan Kab Tanah Laut, Kelompok Tani KSM Rumpun Pemuda Tani, dan Pengusaha.
Salah satu pengusaha yang hadir adalah PT. Santika Duta Nusantara. Perusahaan ini bergerak di bidang peternakan, dan merupakan perusahaan terbesar di Subang Jawa Barat. PT. Santika Duta Nusantara menggunakan jagung sebagai bahan untuk memproduksi pakan ternak.
Pada pertemuan tersebut, saya sebagai wakil kelompok tani diberi kesempatan untuk menyampaikan masukkan. Ide yang saya sampaikan adalah bagaimana agar petani jagung dapat sejahtera. Saya menyampaikan bahwasannya petani jagung harus menanam jagung seluas 5 ha dan memelihara sapi sebanyak 8 ekor. Ide saya tersebut didasari karena lahan-lahan yang kami miliki memang dibilang relatif luas, dan sangat memungkinkan jika kami memiliki lahan seluas 5 ha tersebut.
Ide atau masukan saya ternyata dapat diterima oleh forum lokakarya tersebut. Dari lokakarya inilah kemudian terangkum beberapa pendapat atau masukan petani, yaitu sebuah target yang ingin dicapai. Adapun target tersebut antara lain:
Dari sinilah kemudian H. Asep pemilik PT. Santika Duta Nusantara tertarik untuk berinvestasi di Kab Tanah Laut. Sebagai tindak lanjut kemudian PT. Santika Duta Nusantara menunjuk Imam Hanapi (anggota DPRD Tanah Laut) sebagai Manajer Umum proyek investasi ini.
Sebagai pengelola dan pelaksana, ditunjuklah kelompok-kelompok tani yang ada di Tanah laut, dengan catatan kelompok tani ini tergabung dalam KAJATA (Koperasi Agribisnis Jagung Tanah Laut; Tengkulak Berkedok Koperasi - baca Menguak Sindikat Jagung di Buletin Advokasi Nomor 23 Tahun 2006). Sebelum kerjasama dilakukan perusahaan dan petani berdialog guna menyepakati kerjasama agar dikemudian hari petani tidak dirugikan. Salah satu nilai keuntungan dari investasi ini yaitu, petani tidak dibebani bunga atas investasi yang dilakukan.
Dalam perjalanannya, kemudian saya dipercaya untuk mengkoordinir kelompok-kelompok tani jagung, karena kebetulan saya dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Kelompok Petani Jagung Tanah Laut. Semua anggota kelompok tani jagung tersebut saya ikutkan sebagai penerima permodalan. Target penanaman awal adalah 1.000 ha. Untuk penanaman 5 M dan pembelian jagung musim ini disiapkan dana 11 M, setiap pengiriman + 1.000 ton/kapal dan 5 orang Ketua Kelompok (termasuk anggota Ikatan Petani Advokasi (IPA) Tanah Laut sebagai Pendamping Lapangan (PL).
Satu hal penting yang kami tekankan pada kawan-kawan petani penerima investasi modal (Kelompok Mitra PT. Santika Duta Nusantara) adalah menjaga kepercayaan yang sudah diberikan oleh perusahaan.
Made Lutra
Penulis adalah Koordinator Ikatan Petani Advokasi (IPA) Kabupaten Tanah Laut, sekaligus Ketua kelompok KSM Rumpun Pemuda Tani Desa Sumber Mulia Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan
Blogged with Flock