December 2005
Monthly Archive
Monthly Archive
Posted on Dec 22 2005 | Tagged as: Farmers' Initiatives
Rilis Berita
Melalui SLPHT, Usaha Keras Petani Tawangmangu Buahkan Hasil
Sebagaimana dilaporkan Espos, Sabtu (23/7) lalu, ditemukan adanya serangan penyakit umbi busuk terhadap tanaman bawang putih Tawangmangu, Karanganyar. Berita tersebut menyebutkan bahwa keberadaan penyakit ini sebetulnya sudah diketahui petani sejak beberapa tahun lalu, namun hingga saat itu jalan keluarnya belum ditemukan. Setelah melaksanakan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) selama empat bulan, akhirnya diperoleh satu jalan keluar untuk mengatasinya. Hari ini, Rabu (21/12), petani Kelurahan Blumbang, Tawangmangu, Karanganyar, diam-diam melakukan panen perdana bawang putih yang bebas dari penyakit umbi busuk. Ada banyak hasil belajar yang bisa dibagikan bagi petani lain, khususnya di eks Karesidenan Surakarta, bahwa masih ada jalan keluar jika kita kembali ke alam.
Tanaman Bawang Putih merupakan salah satu komoditas unggulan masyarakat petani di Tawangmangu. Dengan berbagai kelebihannya, komoditas tersebut telah mampu mengangkat taraf hidup masyarakat petani. Faktor ketersediaan lahan, kecukupan air irigasi, iklim yang mendukung serta kemauan keras dari para petani merupakan beberapa unsur yang mendukung usaha tani tersebut. Masa keemasan Bawang Putih di Tawangmangu telah berjalan sejak nenek moyang petani hingga sekitar tahun 1996.
Pada periode tahun 1996 sampai sekarang masa kejayaan komoditas unggulan masyarakat petani tersebut mulai surut. Hal ini diakibatkan oleh adanya wabah penyakit umbi busuk yang menyerang tanaman bawang putih pada umur 80-90 hari, pada saat daun tanaman sudah tumbuh subur. Jika terkena penyakit tersebut, tanaman menjadi layu dan kemudian mati. Hal ini berdampak pada kerugian besar bagi petani, khususnya dari pengeluaran biaya bibit, pestisida, pupuk dan tenaga.
Kondisi ini dialami oleh sebagian besar petani di Kelurahan Blumbang dan sekitarnya yang berdampak pada anjloknya pasokan komoditas bawang putih Tawangmangu di pasaran. Sejak saat itu sebagian besar petani sudah tidak lagi menanam komoditas tersebut. Hal lain yang patut dikhawatirkan adalah ketersediaan bibit bawang putih saat ini sudah jauh berkurang dan terancam punah, padahal tadinya bibit tersebut mampu dibudidayakan oleh petani sendiri.
Menurut penuturan petani, informasi dari Petugas Penyuluh Lapang (PPL) Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar menyebutkan bahwa penyebab berbagai masalah teknis pertanian yang dialami petani di Tawangmangu lebih disebabkan oleh perilaku petani sendiri. Dengan kondisi lahan yang subur dan sarana air irigasi yang melimpah telah membuat petani cenderung memforsir lahan pertaniannya dalam budidaya tanaman. Sehingga lahan yang ada tidak pernah diberikan rentang waktu istirahat. Kondisi ini berdampak buruk pada tingkat kesuburan tanah dan kualitas tanaman. Namun demikian, informasi tersebut masih sebatas analisis atau dugaan sementara, dan hal itu masih perlu diuji kebenarannya melalui sebuah penelitian yang menyeluruh. Berangkat dari persoalan tersebut petani mengharapkan dapat mengetahui secara pasti penyebab permasalahan yang ada serta terjawabnya cara penyelesaian yang tepat.
Serangan Fusarium Oxysporum
Pada acara Sarasehan Petani Tawangmangu yang diselenggarakan pada 20 Juli 2005, muncul suatu kesepakatan bahwa untuk mengetahui penyebab penyakit tersebut perlu dilakukan sebuah penelitian melalui uji laboratorium terhadap sampel (contoh) tanaman bawang putih yang terkena penyakit. Uji laboratorium sendiri, pada akhirnya dilakukan di OPT laboratorium PHPT Surakarta.
Setelah dua minggu berselang, hasil diagnosis di laboratorium dapat diketahui dan menunjukkan hasil bahwa tanaman bawang putih terserang penyakit umbi busuk Fusarium yang disebabkan oleh jamur Fusarium Oxysporum. Gejala awal ditandai dengan menguningnya daun, mulai dari ujung daun, dan lama kelamaan kemudian mati. Apabila tanaman dicabut, maka akarnya akan mudah sekali ditarik karena pertumbuhan akar tidak sempurna dan membusuk. Pada dasar umbi lapis terdapat jamur keputih-putihan pada permukaan bagian lapisan yang membusuk. Jika umbi dipotong lapis secara membujur tampak pembusukan yang agak berair, yang meluas ke atas dari pangkal lapisan-lapisan umbi. (dikutip dari hasil diagnosis OPT laboratorium PHPT Surakarta).
Pengatasan masalah penyakit umbi busuk pada tanaman bawang putih memerlukan langkah-langkah pengenalan, pencegahan dan pengendalian. Langkah-langkah ini perlu dilakukan selama (sepanjang) musim tanam bawang putih. Untuk mengawalinya, bersamaan dengan dimulainya musim tanam bawang putih, dilakukan uji coba dalam kerangka Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Hasilnya, diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam penanaman bawang putih bagi masyarakat petani.
Usaha Keras Petani Buahkan Hasil
Atas inisiatif Kelompok Tani Mekar Sari dan Suka Tani Kelurahan Blumbang, Tawangmangu, hingga Desember ini, telah dilakukan SLPHT Bawang Putih. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Yayasan Duta Awam Solo, BPTPH Jawa Tengah melalui Petugas Pengamat Hama dan Penyakit (PHP) Kecamatan Tawangmangu, Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kec. Tawangmangu dan Petani Pemandu (Bp. Wignyo Sunarno) dari Matesih Karanganyar. Kegiatan SLPHT ini ditujukan untuk i) menerapkan budidaya bawang putih yang sesuai dengan rekomendasi hasil diagnosis laboratorium, serta melakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian terhadap penyakit umbi busuk; ii) menerapkan tahapan budidaya tanaman bawang putih dengan sistem pertanian berkelanjutan; serta iii) meningkatkan kapasitas petani dalam budidaya bawang putih.
Pelaksanaan SLPHT Bawang Putih dilakukan mulai Agustus hingga akhir Desember 2005. Perlakuan penanaman bawang putih dilakukan -oleh petani- dengan seminimalkan mungkin memakai input dari luar. Sejak pengolahan lahan hingga perawatan tanaman, petani menggunakan pupuk dasar Bokashi, biopestisida antagonis Trichoderma, insektisida dan pestisida organik. Hampir setiap tiga hari sekali setelah penanaman bawang putih, petani melakukan penyemprotan Trichoderma yang berfungsi sebagai jamur antagonis untuk melawan jamur patogen Fusarium Oxysporum (penyebab utama penyakit umbi busuk).
Selama pelaksanaan SLPHT ini petani mendapatkan pembelajaran penting dalam pengelolaan sistem pertanian secara berkelanjutan, mulai dari pengembangan biopestisida, pembuatan pestisida nabati dan pupuk Bokashi hingga manajemen usaha tani. SLPHT diikuti petani setiap hari Rabu selama empat bulan penuh. Petani Kelurahan Blumbang dengan penuh semangat dan kesadaran untuk peningkatan kesejahteraannya, aktif dalam semua kegiatan ini. Selama kegiatan SLPHT tersebut, petani setiap minggu melakukan pengamatan, analisis dan tindakan yang diperlukan terhadap tanaman bawang putih. Kemauan dan usaha keras petani saat ini mulai menunjukkan hasilnya, dari luas lahan 500 M yang ditanami Bawang Putih tidak satu pun terkena penyakit umbi busuk, meskipun diakui oleh petani, hasil produksinya belum sesuai harapan karena penanamannya dilakukan tidak sesuai musim tanam bawang putih pada Bulan Mei – September. Untuk kepastian jumlah produksi yang diperoleh, masih menunggu dari hasil penghitungan analisis usaha tani yang akan dilakukan Pokja Kelompok Tani Blumbang besok siang, dan menurut rencana pemanenan bawang putih akan dilakukan pada Hari Rabu, 21 Desember 2005 pukul 07.30 WIB di lahan SLPHT, Kelurahan Blumbang, Tawangmangu, Karanganyar.
Ketua Pelaksana SLPHT
Kelompok Kerja Kelompok Tani Blumbang (POKJA KTB)
Kelurahan Blumbang, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar
Contact person:
Tambar - Phone 0271-697783; HP 0815-4857-1502
Petugas Pengamat Hama dan Penyakit (PHP) dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)
Kec. Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.
Contact person:
Purnama, HP. 081 3292 12468
B. Joko Santoso, Phone 0271-697450, HP 081 6427 8553
Yayasan Duta Awam (YDA) Solo
Jl. Adisucipto 184 i Karangasem, Surakarta
Jawa Tengah, INDONESIA - 57145
Phone: +62-271-710816, Fax: +62-271-729176
Contact person:
Anwar Hadi
Agung Bayu Cahyono